Connect with us

News

Gerutu Warga Kesusahan Masuk Tanjung Gading, Terpaksa Tinggalkan Anak di Pos

Published

on

Jangkau.com, Batu Bara – Dalam beberapa pekan terakhir, warga di luar kompleks Perumahan Tanjung Gading Inalum menggerutu karena susahnya menginjakkan kaki ke Kompleks milik perusahaan berplat merah berlokasi di Desa Tanjung Gading, Sei Suka, Batu Bara, Sumut.

Hal tersebut ditenggarai warga dari luar komplek yang ingin mengantarkan anaknya bersekolah ke Kompleks Tanjung Gading.

Tidak diperbolehkan masuk berbonceng tiga oleh satpam Kompleks hingga terpaksa menurunkan dan meninggalkan seorang anak mereka yang masih Sekolah Dasar (SD) di pos pintu masuk.

Siregar, salah seorang warga Kecamatan Air Putih mengaku sudah berulang kali terpaksa menurunkan satu di antara dua anaknya di pintu masuk karena larangan berbonceng tiga.

Padahal Siregar bersama dua anak yang diboncengnya menggunakan helm lengkap.

“Anakku dua yang sekolah (SD) di dalam. Tiap ngantar dua-dua pake helm bang. Masuk wajib satu turun. Nunggu satu udah aku antar satu. Balik lagi aku jemput,” ucap Siregar, Jumat, (21/02/2020).

“Siapa yang mau betanggung jawab soal keselamatan anak kami,” sambungnya.

Memang dia (Siregar-red) sudah mengetahui soal aturan baru larangan berbonceng tiga masuk komplek Tanjung.

Tapi, terang Siregar, sanggat tidak mungkin membiarkan dan meninggalkan anak kecil begitu saja. Konon lagi tujuan keluar-masuk hanya sekedar untuk mengantarkan anak bersekolah.

“Kita hanya minta dispensasi untuk anak sekolah, untuk anak pemakai baju sekolah. Yang dibonceng bukan orang tua. Anak-anaknya,” ucapnya.

Bahkan Siregar mengakui sudah mendapatkan peringatkan bakal tidak diperbolehkan masuk mengatarkan anaknya bersekolah. Karena saat itu dia sempat pernah cekcok mulut lantaran tidak tega meninggalkan anaknya sendirian.

“Pernah aku ribut mulut gak mau ninggalkan anakku di situ sendiri. Yah aku gak sanggup, apalagi kadang aku tengok anakku takut. Namanyan masih SD. tapi aku malah diancam bakal gak dikasih masuk lagi bang,”

“Jadi kalau gak masuk anakku cemana sekolah,” ucapnya.

Bahkan menurutnya untuk apa ada fasilitas umum dan fasilitas pendidikan di Kompleks kalau sulitnya aturan keluar masuk dan sangat memberatkan dan tidak ramah terhadap kehidupan anak.

“Mungkin mereka (Inalum) memaksa kami harus bermobil. Atau kalau mereka gak mau kami masuk suruh aja keluarkan itu (sekolah) ke luar kompleks,” kata Siregar.

Atas atauran yang dikeluhkan itu, ia pun berharap pihak managemen perusahaan bisa mengahadirkan nuraninya dengan memberi keringanan khusus bagi anak berseragam sekolah.

“Kami orang tua cuma minta keringanan toleransi khusus untuk anak sekolah. Semoga didengar dari pihak Tanjung Gading,” katanya penuh harap.

Sementara itu, Manager Hubungan Masyarakat Pabrik Peleburan Inalum, Bambang Heru Prayoga, pada
Jumat (21/02/2020) saat dikonfirmasi
mengatakan aturan yang diberlakukan untuk keselamatan berkendara bagi warga masyarakat sekitar.

“Ini merupakan salah satu kepedulian kami kepada seluruh warga. Demi keselamatan dalam berkendara. Karena akan sangat fatal bagi warga apabila terjadi kecelakaan,” terang Bambang Heru.

Continue Reading
7 Comments

7 Comments

  1. Abdul

    Februari, 21/02/2020 at 3:36 pm

    Sudah jelas melanggar lalu lintas. Kenapa malah minta dispensasi. Kereta dilarang berboncengan tiga itu peraturan Indonesia. Bukan dibuat buat itu aturan.

    • rickydoank870

      Februari, 21/02/2020 at 7:13 pm

      Terkadang satpam tidak nyambung… boncengan betiga . Yg ditinggalkan jalan kaki dan masuk. Hanya menghargai didepan. Tau2 didalemnya ya goncengan lagi .

    • Anonim

      Februari, 21/02/2020 at 10:23 pm

      Ya nama nya anak nya tiga,dia cma punya kreta,mungkin dia klok ada becak to mobil uda pasti naik itu.ngrti napa ma orang susah.orang susa juga punya cita cita.

    • Anonim

      Februari, 23/02/2020 at 7:56 am

      Gak usah sok taat aturan bos.

  2. Desy

    Februari, 21/02/2020 at 4:19 pm

    Pindahkan aja kluar anak2 kita yg bukan anak komplek, dluar masih banyak sekolah lebih berkualitas. Lama2 kan sekolah ddalam itu sepi cm anak komplek aja yg skolah dst, klw siswa ga target sekolah lama2 tutup dana bos ga keluar. Baru pd sadar tu petinggi2, anak ny mau sekolah istrinya hrs ngantar kluar komplek gantian.

  3. Anonim

    Februari, 23/02/2020 at 7:55 am

    Tanjung gading hanya sebuah desa kecil,tapi peraturannya seperti kawasan elit aja,sementara di kawasan perumahan elit aja gak seperti itu aturan mainnya.cuman menang status perumahan karyawan bumn aja.
    Kincit memang

  4. Anonim

    Februari, 24/02/2020 at 8:20 am

    Aturan hanya untuk org dri luar mau masuk ke dalam.klw org yg didalam msh ada juga yg boncengan cuma pakai helm 1.bahkan ga pakai lgi ada tu pernah lihat

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.