Connect with us

Opini

Kawasan Industri Kuala Tanjung, Selera Penguasa atau Rencana Masa ke Masa

Oleh karena itu, kita akan menunggu sampai di mana sebuah hasrat akan sampai. Apakah mencapai tujuannya atau layu sebelum berkembang?

Danil Fahmi

Seorang pemuda tamatan jurusan Kimia Industri Universitas ternama di Sumatera Utara, dengan harapan sebagai putra daerah bisa mengisi celah-celah kompetensi yang kosong di perusahaan-perusahaan beken di Kuala Tanjung.

Malang tak bisa ditolak mujur tak bisa diraih. Berbekal rekomendasi Kepala Desa, tak mampu menggoyang kursi pemutus di atas arsy korporasi di sini. Padahal, apa yang dimintanya, apa yang orang tuanya harap, bukanlah sebuah permohonan yang mewah. Hanya sebuah penerimaan dari perusahaan yang mencacakkan tiang pancang fondasi pabriknya untuk mengais rezeki di atas tanah kampung ini.

Masaku. 15 tahun dahulu, jauh lebih lama dari itu di kalamana tiang pasak bumi PT. Indonesia Asahan Aluminium, 6 Januari 1976 sudah menghunjam di ujung Kuala di pesisir Tanjung dusun Alai ini. Jepang sudah tahu betul dan merencanakan koneksitas Kuala Tanjung sebagai smelting plant area dengan DAM Sigura-gura sebagai power plant area.

Tak berlebihan, tak mungkin tanpa alasan serta tak mungkin tak ada hubungannya pasukan Dai Nippon mendarat di Pantai Sejarah (Sekarang Kampung Jepang) pada tahun 1941 dan mendirikan garis pertahanan di sini di wilayah pesisir Kuala Tanjung ini.

Konon kabarnya, tanah Kuala yang menjorok ke laut menjadi tanjung ini, bukanlah tempat yang potensial, hanya tempat jin buang anak.

Bahkan jauh tak terkenalnya bila dibanding Asahan dengan wilayah perkebunannya, Tebing Tinggi dengan daerah perlintasan, perkebunan dan perdagangannya, Pematang Siantar dan Simalungun sebagai penghasil komoditi, bahkan Belawan jauh lebih hebat dibandingkan dengan Kuala Tanjung dahulu.

Sehingga, setiap kita harusnya bersyukur kepada Jepang, membuka mata kita tentang potensi perdagangan laut dan alam Kuala Tanjung.

Setelah Inalum bertahun-tahun berproduksi dan berkembang di Kuala Tanjung, apakah lantas menjadikan kawasan ini ramai?

Justeru butuh 20 tahun lebih bagi pendatang baru bisa menemukan wangsitnya untuk membangun pabrik di Kuala Tanjung ini.

PT. Multimas Nabati Asahan (selanjutnya dikenal dengan Wilmar Group) mendirikan refinery pertama di Kuala Tanjung medio era 90-an. Bahkan selanjutnya butuh 15 tahunan untuk perusahaan sejenis membangun pabrik di sini. Hingga PT. Bakrie Sumatera Plantations akhirnya membaca kisah sukses Wilmar di Kuala Tanjung.

Pertanyaan utamanya adalah apakah semua by design pemerintah? Dipastikan tidak. Karena pemerintah alergi menjadi pengusaha yang menyediakan budget untuk membangun usaha, pemerintah lebih nyaman menghabiskan anggaran untuk pembangunan infrastruktur lainnya.

Momentum yang disediakan sejarah bagi pemerintah adalah ketika Inalum kembali ke pangkuan RI pada 1 November 2013. Hampir 38 tahun dikuasaa Pemerintah Jepang, di situ lah pemerintah melihat Kuala Tanjung sebagai kawasan industri berbasiskan pelayaran dan perdagangan internasional yang layak dipromosikan kepada dunia.

Maka dimulailah proyek prestisius PT. Pelindo I, yaitu pembangunan pelabuhan Multi Purpose Terminal yang dikomandoi oleh PT. Waskita Karya dan PT. Prima Multi Terminal. Ground breaking nya dilaksanakan 27 Januari 2015 dan rampung tahun 2019 bersamaan dengan pembangunan rel Kereta Api konektivitas pelabuhan Kuala Tanjung ke Kawasan Ekonomi Khusus Sei Mangkei.

Di titik ini lah pemerintah baru dinilai punya visi dan misi untuk membangun kawasan pelabuhan Kuala Tanjung, sungguh satu rentang waktu yang panjang.

Maka pertanyaan fundamen-nya. Apakah pembangunan ini berdasarkan satu rencana dan rancangan pertumbuhan atau berjalan dengan sendiri?

Sulit memahami rencana pembangunan pemerintah terhadap wilayah Kuala Tanjung. Kesulitan pemahaman ini semakin memuncak di kalamana saat yang bersamaan (2015) dibangun Kawasan Ekonomi Khusus Sei Mangkei yang dipersiapkan oleh pemerintah menjadi supporting area terhadap Kuala Tanjung.

Persoalannya adalah muncul egocentris sektoril di mana masing-masing kawasan seakan berjalan dengan rencana pembangunan sendiri. Bukan tidak beralasan kondisi di mana masing-masing kawasan (Kuala Tanjung dan Sei Mangkei) berjalan tidak signifikan dan berkembangnya isu-isu lokal munculnya mafia tanah, kekurangan dalam sosialisasi perencananaan dan kendala-kendala teknis yang menumpuk di lapangan.

Bila saat ini kita membagi dua bagian — lapisan kepentingan–antara korporasi dan masyarakat, maka kemungkinan besar sosialisasi di tingkat korporasi sudah sangat baik.

Namun di level masyarakat terjadi kekisruhan informasi yang bermuara pada problem sosio antropologi terkait pembangunan Kawasan Kuala Tanjung.

Dengan itu kesimpulan kita berpunca kepada hasrat pembangunan yang diinisiasi penguasa bukan perencanaan yang berkesinambungan.

Oleh karena itu, kita akan menunggu sampai di mana sebuah hasrat akan sampai. Apakah mencapai tujuannya atau layu sebelum berkembang?

Apapun wacana pembangunan ini membawa sebuah harapan atau bahkan mencederai rasa keadilan dan kehidupan sosial masyarakat.

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.