Connect with us

Nasional

Raup Proyek Besar Dari Inalum, PT. PP Abaikan Keselamatan Kerja

Published

on

Jangkau.com, Batubara – PT. Pembangunan Perumahan (PP) disinyalir telah mengabaikan Keselamatan Kesehatan Kerja (K3) dalam pengerjaan mega proyek
Green and Smart Building PT. Inalum.

Dari Informasi yang berhasil dikumpulkan, para pekerja lokal terlihat tidak dilengkapi dengan perlengkapan yang memadai dalam pengerjaan kontruksi diatas ketinggian 9 lantai.

Aktivitas para pekerja gedung yang dibangun diatas lahan seluas 2,37 hektar ini, terlihat sama sekali tidak mengunakan Body Safety Harnes. Alhasil, risiko kecelakaan fatal dalam bekerja harus diterima para pekerja, khususnya para pekerja yang berasal dari putra daerah.

Saat dikonfirmasi, pegawai K3 PT. PP Kuala Tanjung, Frastia membantah dugaan keras itu. Dia mengatakan, aktivitas pengerjaan tanpa perlengkapan K3 tersebut terjadi diluar jam kerja. Meskipun diakuinya, hal itu tentu saja menjadi tanggung jawab perusahaan konstruksi pelaksana bangunan gedung Induk Holding Industri Pertambangan Inalum tersebut.

“Itu masih tangung jawab PT PP dan masih menjadi tangung jawab kami. Ya, kita akui itu salah kami, tapi kami tidak melakukan pembiaran. Pekerja (yang tak mengunakan Body Hardnes diatas ketinggian lantai delapan) itu, belum bekerja pada waktu jam kerja. Harusnya yang bersangkutan, kan, bekerja pada tanggal 16 juni 2019, tapi dia sudah masuk pada tanggal 15 Juni 2019, makanya dia tidak kami berikan kelengkapan K3” dalih Fras.

Bantahan serupa juga dilontarkan SEM Manager PT. PP, Taufik Agung. Menurutnya, aspek K3 dalam proyek gedung megah di dikuala Tanjung tersebut justru diabaikan oleh para pekerja itu sendiri. Ia menyayangkan soal minimnya kesadaran para pekerja dalam keselamatan bekerja.

“Ibarat seperti lalu lintas, ada orang yang tak pakai helem, padahal helemnya ada dan polisi dijalanan juga ada, nah begitulah aktivitas konturuksi kita di kuala tanjung, body harness sudah kita berikan kepada pekerja, tapi mereka sendiri yang tidak mau pakai, nah, tak mungkin kan harus setiap waktu kita awasi terus, sementara peningkatan nilai kerja harus kita kebut. Bisa-bisa saja terjadi, itu tergantung dengan kesadaran masing-masing pekerja” jelasnya.

Persoalan pelik ini memantik reaksi keras pemerhati pekerja di daerah itu, Muhammad Arifin Efendi. Ia menilai hal ini justru terjadi akibat kecerobohan PT. PP dalam pengerjaan bangunan gedung milik PT Inalum. Sebagai perusahaan BUMN kebanggaan Presiden Jokowi, lanjut Arifin, semestinya PT. PP dapat lebih mengutamakan keselamatan pekerja.

Begitu pula dengan PT. Inalum. Arifin mengaku tidak habis pikir jika perusahaan raksasa itu mampu memberikan kepercayaan pengerjaan gedung Induk Holding Industri Pertambangan tersebut pada kontraktor yang mengabaikan K3. Arifin juga menjelaskan tentang adanya informasi kecelakaan pekerja yang sengaja ditutup-tutupi oleh PT. PP. Jika dugaan itu benar terjadi, maka PT. PP telah melanggar undang-undang nomer 13 tahun 2003 pasal 87 tentang Keselamatan dan Kesehatan kerja (K3).

”Jangan disepelehkan. Jika masih ada kealfaan keselamatan yang dilakukan PT. PP ini seharusnya Dinas Tenaga kerja bertindak sesuai aturan. Saat ini K3 telah menjadi isu pokok dan menjadi isu kejahatan perusahaan terhadap para pekerja. Sebagai perusahaan besar di republik ini, tak ada toleransi untuk kecelakaan kerja, sudah jelas dalam undang-undang ada sanksi yang melanggar” kata Arifin.

Sementara itu, Plt Kepala Dinas Ketanagakerjaan Batubara, Erwin mengimbau PT. PP agar dapat mematuhi ketentuan perundang-undangan yang berlaku. Karyawan maupun pekerja, kata Erwin, berhak mendapat jaminan keselamatan. Dia menegaskan, apabila pihaknya mendapati perusahaan konstruksi yang mengabaikan keselamatan pekerja, pihaknya tidak akan segan-segan memberikan sanksi keras.

“Sanksinya sesuai dengan ketentuan yang berlaku, bisa sanksi administrasi, sanksi teguran dan sanksi lain yang bersifat rekomendasi supervisi. Sesuai amanat undang-undang nomor 13 tahun 2003. Kita mengimbau kedepan perusahaan diharapkan untuk mematuhi ketentuan yang berlaku, supaya ada perlindungan hak atas seluruh karyawan yang mereka pekerjakan” kata Erwin saat dikonfirmasi belum lama ini.

Green and Smart Building merupakan gedung Induk Holding Industri Pertambangan PT. Inalum yang berpusat di Kualatanjung. Gedung perkantoran modern dan representatif itu dibangun di kawasan lapangan bola A-Camp Kuala Tanjung seluas 2,37 hektar.

Rencananya, gedung tersebut bakal terdiri dari 1 unit gedung 8 lantai dan 1 unit ballroom dengan total luas bangunan 32 ribu meter persegi lebih, sehingga mampu menampung sekira seribu orang karyawan. Groundbreaking gedung milik Inalum ini dilakukan pada Agustus 2018 lalu di Kuala Tanjung dengan dihadiri manajemen Inalum serta instansi pemerintah pusat dan daerah.***alrazi

Continue Reading
Advertisement
10 Comments

10 Comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.