Connect with us

Batu Bara

Sengsaranya Buruh Lokal di Kuala Tanjung, Masuk Kerja Bayar Puluhan Juta hingga Tidak Digaji

Published

on

Seorang pekerja kontrak di PT Inalum.

Jangkau.com – Kawasan Industri Kuala Tanjung (KIKT) di kabupaten Batu Bara Provinsi Sumatera yang dijanjikan bermasa depan cerah penyokong pertumbuhan ekonomi seperti rayuan palsu.

Sebab, hingga maret 2021 para buruh di zona berdirinya berbagai macam perusahan itu masih saja mengabaikan hak buruh terutama bagi mereka di sektor alih daya.

Mulai upah kerja di bawah UMK, Jaminan Kesehatan buram, puluhan tahun bekerja dengan status PKWT, tanpa pesang, gaji tak dibayarkan, hingga PHK sepihak.

Seperti yang baru terjadi, terhadap 30-an lebih buruh di PT Bintang Batubara Berjaya (PT BBB) yang mendapatkan diskriminatif ihwal hak upah kerjanya.

Keringat kerja untuk meningkatkan keuntungan perusahaan, tidak semanis laba yang mereka telah berikan. Yang ada malah sebaliknya, para buruh tersebut semakin tersudut.

Pasalnya sudah dua bulan terakhir sejak januari hingga februari 2021, PT BBB tempat mereka bekerja sama sekali tidak membayarkan upah kerja.

PT BBB sendiri merupakan kontraktor baru di perusahaan BUMN yakni PT Inalum, dalam kepala surat perusahaan berbunyi membidangi Kontraktor, Revelansir, Suplier, Mekanikal Elektrikal hingga Sipil.

Seorang pekerja bernama Yuda (bukan nama sebenarnya) bercerita semula bekerja ia dijanjikan akan diupah Rp 110 ribu per hari. Namun setelah sebulan tiba pembayaran gaji hanya diberi Rp 80 ribu di setiap harinya.

“Udah lah gajinya gak sesuai janji di awal bang, sampai sekarang udah dua bulan lebih kami gak digaji, dari kemarin janji mau dibayar tapi apa, buktinya gak,” ucap Yuda.

Kata Yuda, rata-rata di PT BBB masih merupakan angkatan kerja baru, berusia 20 tahunan mayoritas putra asli Batu Bara.

Penempatan kerja yang acak dan kerap roaming berganti posisi pun membingungkan mereka, lantaran tidak sesuai spesifikasi kemampuan.

“Kadang di roading – filter poket, cleaning, pubrikasi packing plan. Banyak bang entah di mana-mana dicampakkan,” katanya, Senin (22/03/2021).

Sambil menunjukkan vidio dan foto cara mereka bekerja, Yuda merasa tak wajar nerima upah 80 ribu rupiah selama 8 jam kerja. Apalagi untuk bisa bekerja dahulu, mereka harus menyetor 5 sampai 10 juta rupiah.

Tak hanya Yuda, pekerja lain bernama Sandi (bukan nama aslinya) mengungkapkan hal sama, dijanjikan upah 110 ribu, faktanya nerima 85 ribu dengan alasan masih masa training.

“Perjanjian masuk dulu 110 ribu perhari. Pertama dikasih 85 tiga bulan training pulak. Ada juga kerja setengah hari, setelah itu dipulangkan alasan, kerjaan tidak ada,” kata Sandi.

Sempat dijanjikan akan nerima BPJS, tapi sekali lagi semua tak teruji. Bahkan, sampai urusan perlengkapan baju kerja pun harus dipotong gaji oleh perusahaan.

“BPJS pernah dijanjikan mau dapat tapi gak pernah dapat. Selama ini kerja baju dipotong 130 perorang. Diangsur perbulan limpol bang (lima puluh ribu rupiah),” katanya.

Berbeda dengan Yuda dan Sandi. Narasumber kami tak ingin namanya disebutkna, Amin (bukan nama sebernya) berusia 21 tahun ini menceritakan akan tekanan kerja tak seimbang dengan upah. Dengan unit kerja yang samar, kerap kali kehadiran mereka bekerja tidak dihitung atau tidak terima gaji.

“Kadang disuruh masuk, tapi material gak ada. Disuruh pulang lagi, gak dihitung masuk,” kata Amin.

Bahkan tak jarang mereka mendapat kalimat kasar dari karyawan perusahaan Induk pemberi kerja akibat alat atau bahan pekerjaan milik PT BBB yang tidak sesuai standar.

“Kadang wayar pun gak bisa diselamatkan perusahaan, kadang baut sebiji pun gak ada, emang gak bemodal terus. Gak sesuai standar lah, capek lah kita dimarah orang Inalum, cukup tersiksa kita kerja” kata Amin singkat.

Sebelumnya, sedikitnya 32 orang buruh PT Bintang Batubara Berjaya di kawasan Industri Kuala Tanjung, Batu Bara, Sumatera Utara menjerit lantaran gaji mereka belum dibayarkan selama dua bulan.

Direktur PT Bintang Batubara Berjaya Asman mengklaim sudah mencoba membayarkan hak pekerjanya. Tapi hasilnya sia-sia.

“Kami sudah berusaha semaksimal mungkin guna memenuhi kewajiban kami, namun karena kondisi perusahaan kami hari kembali gagal membayarkan gaji kalian,” kata Asman pada selasa 16 maret 2021 lalu.

Continue Reading
Advertisement
31 Comments

31 Comments

  1. Pingback: walmart pharmacy priligy price

  2. Pingback: purchase hydroxychloroquine

  3. Pingback: who makes hydroxychloroquine 200mg

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.