Jangkau.com: Di balik popularitas gemilang dan ilusi kenikmatan yang dijual oleh industri hiburan dewasa, tersimpan realita psikologis yang hancur lebur. Fakta mengerikan ini perlahan dikuliti habis oleh mantan bintang top dunia di industri tersebut, Lana Rhoades. Usai memutuskan pensiun dan menjauh dari sorotan kamera, Lana tak ragu membongkar bagaimana industri yang membesarkan namanya itu telah merusak persepsinya tentang keintiman.
Secara terang-terangan, Lana menyuarakan penyesalan mendalamnya dan membongkar kepalsuan di balik layar yang selama ini dikonsumsi publik.
Kehilangan Hasrat dan Mengaku Aseksual
Dalam sebuah pengakuan yang mengejutkan banyak pihak, Lana membeberkan bahwa pengalaman masa lalunya telah merusak cara pandangnya terhadap keintiman romantis. Melalui siniar (podcast) miliknya yang bertajuk 3 Girls 1 Kitchen, ia secara blak-blakan menyebut dirinya kini cenderung aseksual.
“I don’t even like having sex, honestly I’m pretty much asexual” (Saya bahkan tidak suka berhubungan seks, sejujurnya saya hampir bisa dibilang aseksual), tegas Lana. Pernyataan ini menjadi ironi yang sangat tajam mengingat predikatnya di masa lalu, sekaligus menampar ilusi publik tentang kehidupan para pelakon di industri tersebut.
Ilusi 100% Palsu dan “Atraksi Sirkus”
Lebih jauh, Lana menelanjangi sistem kerja di industri tersebut. Mengutip laporan dari berbagai media internasional seperti Daily Mail dan UNILAD, ia menyebut bahwa semua yang ditampilkan di layar adalah “100% palsu”.
Bagi Lana, apa yang ia lakukan di masa lalu sama sekali bukan bentuk keintiman manusiawi. Ia mendeskripsikan pengalaman kerjanya di depan kamera tak ubahnya seperti dipaksa melakukan “atraksi sirkus” (circus acts) semata demi meraup keuntungan pihak studio.
Desak Industri Dibuat Ilegal
Kini, Lana Rhoades berubah menjadi salah satu kritikus paling vokal terhadap sisi gelap industri hiburan dewasa. Trauma mendalam yang merusak kesehatan mentalnya membuat ia menyesali keputusan masa mudanya.
Lana bahkan secara terbuka menyarankan agar industri film dewasa dibuat ilegal. Menurutnya, efek destruktif dari industri ini sangat nyata, terutama dalam mengeksploitasi perempuan dan menghancurkan kehidupan psikologis mereka di dunia nyata.
Pengakuan Lana ini membuka mata publik bahwa industri yang kerap menjual fantasi ini nyatanya beroperasi di atas eksploitasi dan trauma para pekerjanya. Sebuah tamparan keras bagi realita yang selama ini sengaja ditutup-tutupi. (red)

