Jangkau.com – Labuhanbatu: Dalam tradisi militer, nama satuan bukanlah sekadar pelengkap administrasi, melainkan muruah dan identitas. Menyadari hal ini, Komandan Kodim 0209/Labuhanbatu (LB), Letkol Kav Hanung Kaptiaji, mengambil langkah diplomasi kultural dengan menemui langsung ahli waris Keluarga Besar Kesultanan Billah.
Pertemuan yang digelar secara tertutup namun hangat pada Rabu (25/2/2026) di Aula Makodim 0209/LB, Jalan Abdul Aziz, Rantau Utara ini, berfokus pada satu agenda krusial: memohon izin secara resmi untuk menggunakan nama Sultan Bidar Alam sebagai atribut Batalyon Infanteri (Yonif) TP 956.

Langkah ini menunjukkan etika institusi yang elegan. Di hadapan sekitar 30 tokoh adat, pewaris kesultanan, dan jajaran perwira Kodim, Letkol Hanung menegaskan bahwa pertemuan tersebut bukan sekadar formalitas birokrasi, melainkan wujud nyata penghormatan TNI AD terhadap akar sejarah Labuhanbatu.
“Kami ingin memastikan bahwa setiap nama yang disematkan pada satuan TNI AD memiliki makna sejarah dan restu dari para pewarisnya. Ini adalah bentuk penghormatan kami kepada sejarah Labuhanbatu sekaligus penguat jati diri prajurit,” tegas Letkol Hanung.
Ia menambahkan, penyematan nama Sultan Bidar Alam merupakan komitmen moral bagi prajurit Yonif TP 956 untuk selalu menjunjung tinggi nilai kepemimpinan, keberanian, dan kearifan lokal saat mengabdi untuk rakyat.
Restu Penuh dari Ahli Waris
Adab yang ditunjukkan oleh jajaran Kodim 0209/LB ini mendapat sambutan positif. Pihak ahli waris Kesultanan Billah menyatakan apresiasi dan rasa bangganya atas penghargaan TNI AD terhadap warisan leluhur mereka.
Tanpa perdebatan, keluarga besar kesultanan memberikan lampu hijau dan dukungan penuh atas penggunaan nama serta lambang Sultan Bidar Alam. Mereka menitipkan harapan besar agar satuan Yonif TP 956 mampu membawa dan menjaga nama besar kesultanan tersebut dengan kehormatan serta prestasi di medan tugas.
Sebagai bentuk pengesahan kultural, prosesi ini diakhiri dengan pemaparan makna lambang satuan oleh Pasi Pers Dim 0209/LB, dilanjutkan dengan penandatanganan kesediaan secara tertulis. Pertukaran cendera mata antara Dandim dan ahli waris menutup rangkaian acara, menandai kukuhnya sinergi antara penjaga pertahanan negara dan penjaga sejarah daerah. (red)

