Jangkau.com – Batu Bara: Dunia pendidikan di Kabupaten Batu Bara rupanya sedang bersiap menyambut era baru. Bukan era di mana atap sekolah-sekolah di pelosok tidak lagi bocor, bukan pula era di mana perpustakaan desa dipenuhi buku-buku bermutu dan akses internet yang kencang. Tidak, kawan. Ini adalah era keemasan goodie bag.
Berdasarkan sebuah dokumen usulan penambahan anggaran yang beredar tertanggal 17 Juli 2026 dan ditandatangani oleh Plt. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Batu Bara terungkap sebuah rencana “brilian”. Dokumen tersebut mengusulkan penambahan anggaran belanja dalam Perubahan Penjabaran APBD TA 2026. Total usulannya fantastis: Rp2.895.200.000 (hampir 2,9 Miliar Rupiah).

Lalu, untuk apa dana sebesar itu digelontorkan? Apakah untuk memperbaiki ruang kelas di wilayah pesisir yang nyaris roboh dimakan usia? Atau mungkin untuk melengkapi laboratorium agar siswa bisa melakukan praktik sains yang layak? Tentu saja tidak. Dana itu diusulkan untuk pengadaan “Perlengkapan Pembelajaran” dan “Goodie Bag” bagi siswa SD dan SMP.
Mari kita bedah angka-angka “ajaib” ini. Untuk tingkat SD, diusulkan pengadaan 7.563 set perlengkapan pembelajaran senilai Rp200.000 per set, ditambah goodie bag seharga Rp20.000 per buah. Untuk tingkat SMP, ada 5.597 set perlengkapan dan goodie bag dengan harga satuan yang sama. Total belanja untuk goodie bag saja mencapai angka Rp263.200.000.
Luar biasa! Di tengah jeritan ketimpangan fasilitas pendidikan antarkecamatan dan masih adanya sekolah dengan infrastruktur seadanya, Dinas Pendidikan Kabupaten Batu Bara justru melihat urgensi yang sangat mendesak untuk mendistribusikan belasan ribu tas jinjing ini.
Tentu saja, kita harus tetap berpikiran positif. Mungkin goodie bag seharga Rp20.000 ini memiliki kekuatan magis. Mungkin, saat siswa menentengnya, atap kelas yang bocor seketika tertambal secara gaib, atau lantai sekolah yang tergenang banjir mendadak surut. Mungkin juga, goodie bag ini didesain sedemikian rupa agar bisa berfungsi ganda sebagai pelampung bagi siswa yang harus melewati jalanan rusak atau menyeberang sungai untuk berangkat ke sekolah.
Surat pengantar usulan tersebut bahkan dengan tegas mengutip Surat Edaran Menteri Dalam Negeri tentang Penggunaan Bantuan Pemerintah Pusat dan Bantuan Keuangan Pemerintah Daerah serta Pergeseran Anggaran dalam APBD pada Daerah Bencana. Ah, ternyata ini terkait bencana! Mungkin, ketiadaan goodie bag di tangan para siswa memang telah diklasifikasikan sebagai “bencana” pendidikan tingkat tinggi yang harus segera ditanggulangi dengan manuver pergeseran anggaran bernilai miliaran rupiah.
Semoga saja usulan ini segera disetujui. Bayangkan betapa estetiknya masa depan pendidikan Batu Bara. Setiap siswa bisa melangkah gagah dengan goodie bag baru, meski harus duduk di kursi kelas yang reyot dan menatap papan tulis yang sudah retak belah.
Maju terus pendidikan Batu Bara! Jangan lupa bawa goodie bag-mu! (map)

