Jangkau.com – Batu Bara: Pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) ke-XIX tingkat Kabupaten Batu Bara menyisakan tanda tanya besar di kalangan publik. Alih-alih membahas siapa pemenangnya, masyarakat justru menyoroti fenomena mencolok terkait kehadiran Aparatur Sipil Negara (ASN). Dua momen penting, yakni pembukaan dan penutupan, memperlihatkan kontras yang begitu ekstrem bak bumi dan langit.
Lautan ASN Padati Acara Penutupan
Pada acara penutupan yang dipimpin langsung oleh Bupati Batu Bara, Baharuddin Siagian, atmosfer kemeriahan begitu terasa. Berdasarkan pantauan di lapangan, arus lalu lintas di seputaran Jalan Sudirman, Kecamatan Air Putih, bahkan mengalami kemacetan parah. Hal ini terjadi akibat padatnya volume kendaraan pengunjung yang membeludak.
Di pusat kegiatan, Lapangan Indrapura disesaki oleh ribuan manusia yang didominasi para ASN. Kehadiran para abdi negara ini membuat seremonial penutupan terlihat sangat sukses, masif, dan penuh gaung. Namun, kemeriahan ini justru memantik ingatan publik pada peristiwa janggal beberapa hari sebelumnya.
Anomali Pembukaan: Kursi Kosong dan Absennya Birokrasi
Saat MTQ ke-XIX ini dibuka resmi oleh Wakil Bupati Batu Bara, Syafrizal, suasana Lapangan Indrapura justru tampak lengang. Unsur ASN yang seharusnya menjadi motor penggerak acara keagamaan ini sangat minim terlihat. Lapangan justru sepi dan dipenuhi deretan kursi kosong.

Ironisnya, susunan acara (rundown) pada seremonial pembukaan sebenarnya telah dirancang jauh lebih matang dan tertata. Panitia juga sudah mempersiapkan nilai estetika pertunjukan yang tinggi. Namun, persiapan matang tersebut harus rontok oleh fakta sepinya kehadiran para birokrat setempat.
Antara Wakil Bupati “Mandul” atau Bupati Otoriter?
Kesenjangan visual yang timpang ini melempar dua tamparan keras sekaligus bagi tata kelola birokrasi di Batu Bara. Pertama, fenomena ini menjadi indikator kuat bahwa Wakil Bupati, Syafrizal, diduga tidak memiliki taji politik. Ia dinilai gagal total dalam mengonsolidasikan bawahannya. Akibatnya, ASN di tingkat bawah seakan tidak menganggap eksistensi Wakil Bupati sebagai pimpinan yang wajib dipatuhi.
Kedua, ledakan jumlah ASN pada malam penutupan memicu kecurigaan adanya sistem tekanan top-down yang masif dari Bupati Baharuddin Siagian. Publik mencium adanya mobilisasi paksaan yang menekuk lutut para abdi negara. Ini bukan lagi loyalitas profesional, melainkan loyalitas berbasis ketakutan (fear-based loyalty).
Runtuhnya Netralitas dan Mentalitas “Asal Bapak Senang”
Secara regulasi, UU ASN mengamanatkan bahwa birokrasi harus tegak lurus pada fungsi pelayanan dan institusi. Mereka tidak boleh menjadi pemandu sorak yang sibuk menghitung arah angin kekuasaan politik praktis. Jika ASN hanya muncul saat Bupati melirik dan bersembunyi saat Wakil Bupati memanggil, maka birokrasi Batu Bara sedang sakit parah. Mereka terjebak dalam mentalitas lama: Asal Bapak Senang (ABS).
Ketimpangan dramatis ini jelas menjadi rapor merah bagi Sekretaris Daerah (Sekda) selaku panglima tertinggi ASN di Kabupaten Batu Bara. Publik kini menunggu, apakah Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) berani membuka data absensi resmi ke permukaan? Ataukah mereka memilih bungkam untuk menyelamatkan muka para penguasa yang sedang bermain drama loyalitas ini? (map)

