Jangkau.com – Batu Bara: Komite Advokasi untuk Guru Merdeka (KORUM) sukses menggelar nonton bareng (nobar) dan diskusi film dokumenter kontroversial “Pesta Babi” karya Dandhy Dwi Laksono.
BACA: KORUM dan Aliansi Media Gelar Nobar Film “Pesta Babi” di Batu Bara
Acara tersebut digelar di lokasi yang tidak biasa yaitu Lapangan Doorsmeer BAHAGIA. Acara ini menjelma menjadi panggung pembongkaran narasi yang selama ini tersumbat. Banyak warga yang memadati lokasi menjadi bukti sahih bahwa ada rasa penasaran yang besar di tingkat akar rumput.
Membedah “Kegaduhan” dan Narasi yang Ditutupi
Gerakan yang diinisiasi KORUM ini bukan sekadar pemutaran film biasa, melainkan sebuah upaya sadar untuk melawan pembungkaman informasi. Penanggung jawab kegiatan, Raja Kumar yang memiliki nama asli H. M. Rafik, membongkar alasan mendasar di balik nekatnya penayangan dokumenter ini di ruang terbuka.
Dalam sambutannya, Rafik secara blak-blakan menyoroti adanya kejanggalan seputar pelarangan film tersebut yang justru memicu gelombang tanda tanya di masyarakat.
“Kegiatan ini adalah salah satu momentum untuk membedah di masyarakat agar tidak menjadi kegaduhan, kenapa film ini kok bisa dilarang. Maka dari itu, kami mengajak kita melihat lebih jauh kenapa film ini menjadi viral dan seperti ada yang ditutup-tutupi,” tegas Rafik di hadapan massa yang hadir.
Boikot Ruang Formal, Doorsmeer Jadi Mimbar Rakyat
Langkah KORUM menggelar acara di Lapangan Doorsmeer BAHAGIA menunjukkan sebuah ironi sekaligus kritik keras terhadap ketersediaan ruang publik yang bebas intervensi. Rafik menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih yang mendalam kepada pemilik usaha pencucian mobil tersebut yang berani meminjamkan lapaknya demi kepentingan literasi warga.

Respons publik di luar dugaan. Antusiasme yang meledak tidak berhenti saat film usai diputar. Gelombang reaksi positif justru melahirkan desakan baru dari para penonton. Sejumlah perwakilan warga secara terbuka mengusulkan agar “Pesta Babi” tidak berhenti di satu titik, melainkan ditayangkan kembali di wilayah-wilayah lain yang berbeda.
Penjagaan Ketat TNI-Polri Berwajah Humanis
Sensitivitas muatan film “Pesta Babi” membuat aparat keamanan tidak mau kecolongan. Jalannya penayangan dan diskusi mendapatkan pengawalan ketat dari personel gabungan Polisi dan TNI.
Meskipun dijaga ketat guna mengantisipasi potensi gesekan, aparat di lapangan menerapkan pendekatan yang humanis dan persuasif. Langkah ini diapresiasi karena membiarkan ruang dialektika warga tetap berjalan kondusif tanpa ada intimidasi fisik terhadap jalannya diskusi ilmiah.
Babak Baru: KORUM Siap Guncang Pelosok Batu Bara
Menjawab tantangan dan permintaan dari masyarakat yang telanjur penasaran, Rafik memastikan bahwa gerakan ini akan bergulir lebih masif. KORUM kini tengah menyusun strategi dan jadwal untuk membawa “Pesta Babi” ke panggung yang lebih luas.
BACA: Kehadiran ASN di MTQ XIX Batu Bara, Boikot Terselubung atau Takut Sanksi?
“Secepatnya kami akan menyusun jadwal dan mempersiapkan acara nobar film ‘Pesta Babi’ ini dengan skala yang lebih besar, menyasar beberapa daerah berbeda di seluruh Kabupaten Batu Bara,” pungkas Rafik.
Ketika sebuah informasi berusaha ditutup-tutupi, ia justru akan mencari jalannya sendiri untuk meledak. KORUM telah menyalakan sumbunya di Batu Bara, dan publik kini menanti daerah mana lagi yang akan mendobrak barikade informasi ini. (map)

