Jangkau.com – Batu Bara: Kolaborasi besar lintas elemen akan tersaji di Bumi Persaudaraan. Komite Advokasi untuk Guru Merdeka (KORUM) menggandeng berbagai aliansi taktis, mulai dari Tim Sulink, MOKONDO, hingga media siber garis62.id dan jangkau.com, untuk menggelar acara Diskusi dan Nonton Bareng (Nobar) film dokumenter kontroversial, “Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita”.
Raja Kumar, selaku Penanggung Jawab Kegiatan, mengonfirmasi bahwa agenda ini akan dilaksanakan pada Senin, 18 Mei 2026, bertempat di Lapangan Doorsmeer BAHAGIA, Titi Payung, Kecamatan Air Putih, Kabupaten Batu Bara.
Membuktikan Komitmen Menko Hukum dan HAM
Pria yang identik dengan kumis tebalnya ini mengungkapkan bahwa salah satu pemantik utama diadakannya acara ini adalah untuk menguji pernyataan Menteri Koordinator Bidang Hukum dan Hak Asasi Manusia (Menko Hukum & HAM), Yusril Ihza Mahendra. Sebelumnya, Menko Yusril sempat menyatakan bahwa pemerintah tidak melarang kegiatan diskusi maupun nobar film tersebut.
“Kami ingin membuktikan apakah ucapan Menko Yusril itu benar-benar jaminan kebebasan berpendapat di tingkat daerah, atau hanya sekadar retorika pusat. Ini adalah ruang belajar ilmiah dan kritis bagi warga,” ujar Raja Kumar tegas.
Tertib Administrasi, Surat Resmi ke Polres Telah Dikirim
Demi menjaga kondusivitas dan keamanan bersama, Raja Kumar memastikan bahwa pihaknya bergerak sesuai dengan koridor hukum yang berlaku. Pada Sabtu (16/5/2026), tim panitia telah melayangkan surat pemberitahuan resmi ke Polres Batu Bara.
Langkah ini diambil sebagai bentuk tertib administrasi dalam menyelenggarakan kegiatan yang melibatkan massa (keramaian), sekaligus memastikan hak-hak konstitusional warga negara dilindungi oleh aparat penegak hukum selama acara berlangsung.
Undangan Terbuka untuk Guru PPPK dan Konten Kreator
Dalam kesempatan tersebut, Raja Kumar juga mengajak seluruh elemen masyarakat Batu Bara untuk merapatkan barisan dan hadir di Lapangan Doorsmeer BAHAGIA.

Secara khusus, ia mengundang para Guru PPPK Paruh Waktu yang saat ini sedang berjuang menuntut haknya, serta para konten kreator lokal. Kehadiran para konten kreator dan guru diharapkan mampu memberikan perspektif baru yang lebih kaya dalam sesi diskusi pasca pemutaran film.
“Film ini bicara tentang kolonialisme modern, sebuah isu yang sangat dekat dengan realita penindasan dan ketidakadilan birokrasi yang kita rasakan hari ini. Mari hadir, bersuara, dan mendokumentasikan gerakan ini bersama-sama,” pungkas Kumar. (map)

