Jangkau.com – Batu Bara: Dinas Pendidikan Kabupaten Batu Bara di bawah komando Plt. Kepala Dinas Pendidikan saat ini, tampaknya sedang bereksperimen dengan teori manajemen terbaru: “Benda Mati Lebih Setia Daripada Guru.”
Di tengah jeritan para tenaga PPPK Paruh Waktu yang mulai mahir mengonsumsi janji manis sebagai pengganti karbohidrat karena gaji tak kunjung cair, Dinas Pendidikan justru menunjukkan kemurahan hati yang luar biasa kepada pihak ketiga penyedia barang. Tak tanggung-tanggung, anggaran sebesar Rp1 Miliar digelontorkan untuk pengadaan meubelair (meja dan kursi) jenjang SD dan SMP.
Inovasi “Meja Kenyang, Guru Lapar
Praktisi Hukum Yudi Pratama, S.H., memberikan apresiasi setinggi-tingginya atas selera estetika Plt. Kepala Dinas Pendidikan Batu Bara. Menurutnya, kebijakan ini adalah langkah strategis untuk memastikan siswa-siswi tetap nyaman duduk, meski gurunya berdiri dengan perut keroncongan.
“Luar biasa dedikasi Plt. Kadis Pendidikan kita ini. Mungkin beliau berpikir bahwa meja dan kursi baru bisa meningkatkan IQ siswa secara otomatis, sehingga keberadaan guru yang sudah gajian atau belum menjadi tidak relevan lagi,” ujar Yudi dengan nada satir yang kental.
Yudi menambahkan bahwa sangat ironis melihat Dinas Pendidikan begitu cekatan dalam mencairkan anggaran untuk pengadaan barang yang mencapai miliaran rupiah, namun mendadak “amnesia” atau birokrasinya menjadi “siput” ketika menyangkut hak dasar tenaga pendidik.
Pesan Untuk Plt. Kadis Pendidikan
Yudi menyarankan agar para PPPK Paruh Waktu di Batu Bara mulai belajar cara mengajar kepada meja dan kursi baru seharga satu miliar tersebut.
”Karena anggaran lebih cinta kepada meubelair daripada kepada tenaga pengajar, saya usul meja-meja itu saja yang disuruh mengajar di kelas. Toh, harganya mahal, pasti punya kemampuan magis untuk mencerdaskan anak bangsa tanpa perlu dibayar gaji bulanan,” pungkas Yudi.
Masyarakat Batu Bara kini menunggu, apakah Plt. Kepala Dinas Pendidikan akan tetap melanjutkan hobi “belanja furniture” ini atau akhirnya sadar bahwa pendidikan digerakkan oleh kesejahteraan guru, bukan oleh kehalusan permukaan meja. (red)

