Jangkau.com โ Batu Bara: Pemerintah Kabupaten Batu Bara secara resmi menyalurkan dana insentif kepada sebanyak 540 orang guru Sekolah Minggu se-Kabupaten Batu Bara. Pemberian insentif tahap pertama ini diserahkan langsung secara simbolis oleh Bupati Batu Bara, Baharuddin Siagian, didampingi Wakil Bupati, Kapolres Batu Bara dan Ketua PGID.
Setiap guru Sekolah Minggu menerima insentif sebesar Rp500 ribu dengan total serapan anggaran daerah mencapai Rp270 juta. Bupati Baharuddin menyatakan, pemberian insentif ini merupakan bentuk nyata apresiasi pemerintah daerah atas dedikasi para guru dalam membina pendidikan keagamaan serta pembentukan karakter anak sejak usia dini.
KORUM: “Pemerintah Pilih Kasih, Guru Formal Dianaktirikan”
Langkah manis Pemkab tersebut rupanya langsung mendapat sorotan miring dan kritik tajam dari Komite Advokasi untuk Guru Merdeka (KORUM). Koordinator KORUM, Masro Mario Sitohang, menyayangkan sikap pemerintah daerah yang dinilai tebang pilih dan tidak adil dalam melihat skala prioritas kesejahteraan tenaga pendidik.
“Kita apresiasi insentif keagamaan itu. Namun, Pemkab Batu Bara seperti menutup mata dan tidak menaruh perhatian sama sekali pada nasib Guru PPPK Paruh Waktu (PW). Bayangkan, ini sudah memasuki bulan keenam, tapi hak gaji mereka tidak kunjung diberikan kepastian,” kritik Mario dengan nada kecewa kepada redaksi jangkau.com, Rabu (10/6/2026).
Dosa Birokrasi Baharuddin: Insentif Lauk Pauk yang Dulu Lancar Kini Lenyap!
Tak hanya soal kemacetan gaji PPPK Paruh Waktu yang sudah setengah tahun, Mario juga membongkar rapor merah kepemimpinan Baharuddin Siagian terkait hilangnya hak-hak guru honorer. Di tahun anggaran 2026 ini, insentif lauk pauk yang menjadi tumpuan tambahan penghasilan para guru honorer dan PPPK Paruh Waktu ternyata dihapus secara sepihak.
“Ini sejarah buruk. Pada tahun-tahun sebelumnya, sebelum Baharuddin Siagian menjabat sebagai Bupati Batu Bara, insentif lauk pauk ini selalu lancar diterima oleh para guru tanpa kendala dan tepat waktu. Sekarang? Malah lenyap tak berbekas,” bongkar Mario.
Ingatkan Peran Setara, Desak Bupati Gunakan Mata Hati
KORUM mengingatkan bahwa guru di sekolah formal maupun guru di sekolah keagamaan (Sekolah Minggu) memiliki derajat dan peran yang sama pentingnya dalam mendidik serta membina generasi muda di Bumi Batu Bara. Oleh karena itu, tidak ada alasan bagi pemerintah untuk membeda-bedakan perhatian.
“Dua-duanya mendidik anak-anak kita. Maka cobalah pakai mata hati, perhatikan juga nasib guru-guru yang ada di sekolah formal, khususnya Guru PPPK Paruh Waktu dan tenaga honorer yang saat ini posisinya sudah sangat kritis untuk bertahan hidup. Jangan sampai ada kesan anggaran daerah hanya digelontorkan untuk pencitraan kelompok tertentu saja,” pungkas Mario menutup keterangannya. (map)

