Bantuan Benih, Perhatian Untuk Petani, Hingga Dukungan Bagi Nelayan Dijanjikan, Tetapi Yang Terlihat Justru Minim Program dan Lemah Eksekusi
Jangkau.com – Batu Bara: Satu tahun Baharuddin Siagian memimpin Kabupaten Batu Bara, tetapi nasib petani dan nelayan dinilai belum banyak berubah. Janji politik yang semula terdengar akrab di telinga warga desa dan pesisir kini justru dipersoalkan karena belum menjelma menjadi kebijakan yang nyata, terukur, dan berpihak pada mereka yang hidup dari laut dan lahan.
BACA: Setahun Bahar Berkuasa, Janji Pendidikan Masih Tinggal Janji
Dalam daftar program prioritas yang pernah disampaikan ke publik, Bahar disebut menjanjikan bantuan benih dan benur sehat bagi nelayan, perhatian terhadap sektor pertanian dan kesejahteraan petani, serta pembangunan infrastruktur yang baik untuk mendukung produktivitas pertanian. Bagi daerah seperti Batu Bara, janji itu bukan sekadar pelengkap kampanye. Itu adalah janji yang menyentuh urat nadi ekonomi rakyat.
Namun, satu tahun berjalan, kritik yang muncul justru memperlihatkan hal sebaliknya. Dalam realita dilapangan, sektor perikanan dan pertanian disebut masih bergantung pada dana pusat. Lebih parah lagi, dukungan yang datang pun dinilai tidak dikerjakan dengan baik. Sorotan bahkan mengarah pada fasilitas pertanian yang viral karena disebut dikerjakan secara sembrono, sementara program yang benar-benar menyentuh kesejahteraan nelayan dinilai nyaris tak terlihat.
Di titik inilah kritik menjadi telak. Pemerintah dinilai belum mampu menghadirkan keberpihakan yang nyata kepada dua kelompok masyarakat yang justru paling rapuh terhadap tekanan ekonomi. Petani menghadapi persoalan produksi, sarana, distribusi, dan harga. Nelayan berjibaku dengan biaya melaut, cuaca, hasil tangkapan, dan ketidakpastian pasar. Tetapi di tengah persoalan itu, yang hadir justru disebut baru sebatas kalimat “akan memperhatikan”.
Kritik dimasyarakat tersebut bahkan menyebut janji politik Bahar kepada petani dan nelayan tak lebih dari gimmick dan lip service kampanye. Kalimat itu memang keras, tetapi lahir dari kegelisahan yang nyata, ketika pemerintah tak menunjukkan program yang kuat, tak menghadirkan perubahan di lapangan, dan tak memberi dampak yang terasa, maka janji yang dulu dibawa ke publik akan mudah dilihat sebagai retorika belaka.
BACA: Setahun Bahar Berkuasa, Janji Kesehatan Mandek, Layanan Publik Tetap Terseok
Sektor perikanan dan pertanian tidak bisa dipelihara dengan seremoni. Ia membutuhkan intervensi yang konkret, mulai dari sarana produksi, akses benih, bantuan bagi nelayan, infrastruktur pendukung, hingga kebijakan yang benar-benar melindungi penghasilan warga. Tanpa itu semua, petani dan nelayan akan terus menjadi kelompok yang paling sering disebut dalam pidato, tetapi paling lambat disentuh oleh hasil pembangunan.
Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka pemerintahan Bahar akan meninggalkan catatan buruk di sektor yang seharusnya paling dekat dengan rakyat kecil. Sebab pada akhirnya, petani dan nelayan tidak membutuhkan janji untuk diperhatikan. Mereka membutuhkan bukti bahwa pemerintah benar-benar bekerja untuk mereka. (red)

