Jangkau.com – Batu Bara: Kegiatan Edukasi Politik Kebangsaan yang digelar oleh Rumah Informasi dan Edukasi Kabupaten Batu Bara pada Minggu (21/6/2026) mendadak riuh. Hal itu dipicu oleh pemaparan materi Bupati Batu Bara, Baharuddin Siagian, yang dinilai berulang kali keluar dari esensi tema acara.
Acara yang mengusung tema besar “Menepis Apatis, Merawat Demokrasi” tersebut awalnya dirancang untuk membangun kesadaran politik yang sehat di tengah masyarakat. Namun, alih-alih mengupas strategi merawat demokrasi, bupati yang akrab disapa Bahar Siagian ini justru kedapatan melontarkan pernyataan yang menyasar para pengkritik infrastruktur daerah.
Sentil Pengkritik Jalan Rusak dengan Nada Tinggi
Sorotan tajam mulai mengemuka ketika Bahar Siagian secara blak-blakan menyinggung kehebohan terkait kondisi jalan rusak di Kabupaten Batu Bara saat ini. Ia mempertanyakan arah kritik tersebut dan membandingkannya dengan kondisi pada periode pemerintahan sebelumnya.
Ucapan krusial itu langsung memantik perhatian serius dari para peserta dan jurnalis yang hadir di lokasi acara.
“Kok jalan rusak sekarang dimana-mana heboh, 5 tahun lalu 6 tahun lalu kalian diam saja. Dimana kau…” ketus Bahar Siagian dari atas podium.
Pernyataan bernada sindiran itu dinilai sejumlah pihak tidak relevan dengan forum edukasi politik yang semestinya berjalan objektif dan edukatif. Narasi yang dilontarkan sang bupati dianggap cenderung defensif dalam merespons dinamika tuntutan perbaikan infrastruktur dari masyarakat akar rumput.
Dinamika Kritik dan Ruang Demokrasi di Batu Bara
Berdasarkan pantauan di lapangan, keluar temanya materi yang disampaikan kepala daerah ini sangat disayangkan. Padahal, forum yang diinisiasi oleh Rumah Informasi dan Edukasi tersebut diharapkan mampu menjadi ruang dialog yang sehat untuk mengikis sikap apatis masyarakat terhadap pembangunan daerah.
Namun, respons emosional terkait isu jalan rusak ini justru menunjukkan sebaliknya. Kritik masyarakat terhadap fasilitas publik terkesan dipandang sebagai serangan politik, alih-alih sebagai fungsi kontrol sosial yang sah dalam iklim demokrasi.
BACA: Setahun Bahar Berkuasa, Petani dan Nelayan Masih Menunggu Janji yang Tak Kunjung Tepi
Hingga berita ini diturunkan, pernyataan “Dimana kau” yang dilontarkan Bupati Batu Bara tersebut mulai memicu perdebatan hangat di tengah masyarakat dan kalangan aktivis daerah. Publik kini mempertanyakan komitmen transparansi dan kesiapan pemerintah daerah dalam menerima aspirasi pembangunan yang berkelanjutan. (map)

