Jangkau.com – Batu Bara: Kursi panas Sekretaris Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Batu Bara akhirnya terisi setelah mundurnya Efendi, S.T. Di tengah gejolak perombakan 26 staf dan hengkangnya tiga Kepala Bidang, muncul nama Tobok Luhut Situmorang sebagai Plt. Sekretaris yang baru.
Kehadirannya memicu rasa penasaran publik. Siapakah sebenarnya sosok yang dipercaya membenahi birokrasi Disdik di tengah badai tuntutan gaji guru PPPK ini? Redaksi jangkau.com merangkum profil Tobok Luhut dari berbagai sudut pandang:
1. Tradisi “Rangkap Jabatan” yang Berlanjut
Batu Bara seolah tak pernah kehabisan stok pejabat “superman”. Tobok Luhut saat ini masih menjabat sebagai Kepala SMP Negeri 1 Datuk Lima Puluh. Kini, ia juga harus memegang kendali administratif di Dinas Pendidikan.
Di saat 26 staf dirombak dan birokrasi sedang lumpuh, bagaimana mungkin seorang Kepala Sekolah bisa fokus membagi waktu? Apakah ini bentuk krisis kaderisasi, ataukah sekadar upaya mengamankan “orang dalam” di lingkaran kekuasaan?
2. Akademisi Bergelar Tertinggi: Ujian Ilmu Manajemen
Di balik seragamnya, Tobok adalah seorang intelektual. Ia tercatat sebagai Kandidat Doktor (S3) jurusan Manajemen Kependidikan di Universitas Negeri Medan (Unimed) sejak 16 Agustus 2021. Latar belakang pendidikan ini memberikan ekspektasi tinggi bagi publik.
Pertanyaannya, apakah teori Manajemen Pendidikan yang ia pelajari di bangku doktoral mampu menjadi solusi konkret untuk mengurai benang kusut gaji guru PPPK paruh waktu yang macet selama empat bulan? Ataukah gelar tersebut hanya akan menjadi pajangan di tengah sistem yang sedang kolaps?
3. Jejak Kelam: Nama Tobok dalam Surat Dakwaan Korupsi
Inilah poin paling krusial yang menyandera integritas Tobok Luhut. Berdasarkan data resmi SIPP PN Medan (No. Perkara 64/Pid.Sus-TPK/2024/PN Mdn), nama Tobok muncul dalam pusaran kasus korupsi seleksi PPPK 2023.
Dalam dakwaan tersebut, Tobok disebut berperan sebagai pengumpul dana sebesar Rp40.000.000 dari salah satu peserta seleksi pada Desember 2023. Uang tersebut diduga diserahkan kepada Rahmad Zein untuk memuluskan kelulusan peserta. Keterlibatan namanya dalam catatan hukum ini tentu menjadi “beban moral” bagi posisinya yang kini justru bertugas mengelola urusan administrasi guru dan tenaga kependidikan.
PR Besar: Menuntaskan Masalah atau Mundur Teratur?
Kini, Tobok Luhut Situmorang berdiri di persimpangan jalan. Ia dihadapkan pada dua pilihan, menggunakan ilmu manajemennya untuk menyelamatkan nasib ratusan guru PPPK yang sedang menderita, atau justru berakhir dengan “mundur secara teratur” mengikuti jejak para pejabat sebelumnya.
Publik Batu Bara menanti, apakah “Doktor” baru ini adalah obat bagi Disdik, atau justru hanya bagian dari masalah lama yang dikemas dalam jabatan baru? (map)

