Jangkau.com – Batu Bara: Krisis di Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Batu Bara kian menjadi sorotan. Di tengah polemik gaji guru PPPK yang belum dibayarkan, Plt Sekretaris Disdik Batu Bara, Efendi, S.T., dilaporkan mundur dari jabatannya pada Rabu, 22 April 2026.
Mundurnya Efendi menyempurnakan lumpuhnya birokrasi di bawah kepemimpinan Wali Wala Azhari Sagala, menyusul hengkangnya Kabid GTK, Kabid SD, dan Kabid PAUD sebelumnya. Langkah “lari dari tanggung jawab” di saat kondisi kritis ini mempertegas kesan adanya keretakan hebat di internal Disdik.
Bongkar Pasang Staf: Penataan atau Sabotase Birokrasi?
Alih-alih fokus menyelesaikan tunggakan gaji, Plt. Kadisdik Wali Wala Azhari Sagala justru membuat kebijakan kontroversial dengan merombak total struktur staf. Informasi dari sumber internal menyebutkan 26 staf di 6 bidang dipindah-tugaskan secara mendadak.
”Ada sekitar 26 orang dari 6 bidang yang dipindah-pindahkan bang,” ungkap informan yang meminta identitasnya dirahasiakan. Langkah ini dinilai ganjil mengingat posisi-posisi strategis di Disdik saat ini sedang kosong dan membutuhkan stabilitas, bukan perombakan.
KORUM: “Dinas Pendidikan Bukan Tempat Bermain, Copot Wali Wala!”
Kondisi ini memancing kemarahan Koordinator KORUM yang aktif mengawal korban kecurangan PPPK 2023, Masro Mario Sitohang. Ia menilai perombakan staf dan mundurnya pejabat eselon merupakan bukti nyata kegagalan manajerial yang fatal.
“Sangat memuakkan melihat para pejabat ini mundur satu per satu saat guru sedang berdarah-darah memperjuangkan haknya. Apalagi kebijakan bongkar pasang staf, itu hanya akan membuat sistem belajar dari nol lagi. Ini penghambatan birokrasi yang nyata!” ujar Masro dengan nada geram.
Masro mendesak Bupati Batu Bara, Baharuddin Siagian, untuk berhenti melakukan pembiaran. “Jangan main-main! Ini menyangkut pendidikan anak bangsa. Jika Plt. Kadisdik terlihat tidak becus dan hanya menciptakan kekacauan internal, segera COPOT! Masih banyak pejabat lain yang punya nurani dan kompetensi untuk memimpin.”
Ujian Nyata Bupati Baharuddin Siagian
Kini bola panas ada di tangan Bupati. Publik menunggu apakah pemimpin tertinggi di Batu Bara itu akan bersikap tegas, atau tetap membiarkan “kapal” Dinas Pendidikan karam bersama nasib ribuan guru di dalamnya. (map)

