Jangkau.com – Batu Bara: Pengurus Komisariat Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara (PK GMKI FEB USU) kembali menggelar Diskusi Kampus 2 pada Selasa (14/5/2026). Bertempat di Aula Mikie Wijaya FEB USU, diskusi kali ini membedah topik hangat nasional bertajuk “MBG dan KDMP Sebagai Dua Pilar Strategis Nasional: Perspektif dalam Menilai Efektifitas dan Dampaknya”.
Diskusi akademis ini menghadirkan dua perspektif mendalam dari sudut pandang akademisi, Lasma Melinda Siahaan, serta praktisi lapangan, Masro Mario Sitohang.
Efek Jangka Panjang dan Urgensi Pengawas Independen
Dalam paparannya, akademisi Lasma Melinda Siahaan menegaskan bahwa Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) membawa pengaruh yang sangat positif bagi tatanan sosial ekonomi. Namun, Lasma memberikan catatan kritis mengenai potensi kebocoran dalam implementasinya.
Menurutnya, pemerintah tidak bisa berjalan sendiri dalam mengevaluasi program raksasa ini. Perlu ada instrumen kontrol eksternal yang kuat untuk menjaga transparansi anggaran dan distribusi.
“Dalam bentuk pengawasan, harus ada lembaga independen yang mengawasi jalannya program pemerintah ini,” tegas Lasma.
Lebih lanjut, ia mengingatkan publik dan mahasiswa agar tidak terburu-buru menuntut hasil instan. Sifat dari program strategis seperti MBG dan KDMP adalah investasi jangka panjang. Efek masif dari kebijakan ini diproyeksikan baru akan terlihat nyata dalam kurun waktu 5 hingga 10 tahun ke depan.
Lapangan Kerja Meluas, Namun Dibayangi Risiko Monopoli Bahan Pokok
Dari kacamata praktisi, Masro Mario Sitohang tidak menampik bahwa di lapangan, program MBG dan KDMP memberikan stimulus ekonomi yang instan dan nyata, khususnya bagi sektor hilir dan ketenagakerjaan.
Masro membeberkan data lapangan di mana satu titik dapur produksi MBG mampu menyerap hingga 50 tenaga kerja dari masyarakat sekitar. Selain membuka lapangan kerja baru, program ini terbukti mendongkrak geliat para petani lokal sebagai pemasok bahan baku, serta meningkatkan animo anak-anak penerima manfaat untuk bersekolah.
Meski demikian, Masro memberikan peringatan terkait stabilitas pasar yang mulai terganggu akibat masifnya penyerapan komoditas oleh program ini.
“Di sisi lain, bahan pokok sering sekali menjadi langka dan sarat dimonopoli,” ungkap Masro di hadapan peserta diskusi.
Mahasiswa Kritis, Kawal Kebijakan Nasional
Diskusi yang berlangsung dinamis ini memicu antusiasme tinggi dari puluhan mahasiswa FEB USU yang hadir. Sesi tanya jawab berlangsung interaktif, memperlihatkan sikap kritis mahasiswa dalam menyoroti celah korupsi, kesiapan rantai pasok (supply chain), hingga efektivitas KDMP di tingkat desa.
Melalui diskusi ini, PK GMKI FEB USU berhasil memfasilitasi ruang dialektika yang sehat, membedah program strategis nasional tidak hanya dari janji manis di atas kertas, tetapi juga dari realitas pahit-manisnya di lapangan. (map)

