Jangaku.com – Batu Bara: Dunia pendidikan Batu Bara tidak hanya sedang berduka, tapi sedang berdarah. Rabu (15/4/2026), seorang guru PPPK Paruh Waktu menghembuskan napas terakhirnya. Kematian ini bukan sekadar berita duka biasa, melainkan sebuah manifestasi tragis dari macetnya nurani birokrasi di Bumi Persaudaraan.
BACA: Dinas Pendidikan Batu Bara “Goyang”: 3 Kepala Bidang Kompak Mundur, Ada Apa dengan Wali Wala?
Almarhum yang dikabarkan menderita penyakit lambung, wafat saat hak-hak ekonominya sebagai pendidik masih “tersandera” oleh ketidakjelasan kebijakan Pemerintah Kabupaten Batu Bara.
Fakta Pilu: Menagih Hak demi Nyawa
Sebuah fakta menyakitkan terungkap melalui tangkapan layar percakapan terakhir almarhum yang kini tersebar luas di kalangan tenaga pendidik. Dalam pesan singkat tersebut, almarhum terlihat meratap, menanyakan kapan gaji PPPK Paruh Waktu akan cair.
Pesan itu bukan sekadar basa-basi. Almarhum secara eksplisit menyebutkan bahwa gaji tersebut sangat ia butuhkan sebagai modal untuk berobat.

“Memang belum gajian ya dek??? Atau memang gk ada gaji dek?? Butuh duit utk berobat” tulis almarhum dalam pesan yang kini menjadi saksi bisu betapa mahalnya harga sebuah keterlambatan administrasi.
Dosa Kolektif Sistem yang Lamban
Kematian ini menjadi tamparan mematikan bagi Dinas Pendidikan dan para pengambil kebijakan di Batu Bara. Saat para pejabat mungkin masih bisa duduk tenang di kursi empuk mereka, seorang guru harus meregang nyawa sambil terus memikirkan bagaimana cara membayar biaya pengobatan dengan gaji yang tak kunjung datang selama empat bulan.
“Ini bukan lagi soal telat bayar, ini soal nyawa manusia! Berapa banyak lagi guru yang harus sakit atau wafat dalam kemiskinan sebelum mereka (pemerintah) tergerak?” ujar salah satu rekan sejawat almarhum dengan nada tinggi dan penuh kemarahan.
Menuntut Tanggung Jawab Moral
Tragedi ini terjadi tepat di tengah isu pengunduran diri massal para Kepala Bidang di Disdik Batu Bara dan rencana aksi protes besar-besaran para guru. Publik kini menuntut tanggung jawab moral dari jajaran pimpinan di Dinas Pendidikan.
BACA: Seni Menunda Hak: Di Batu Bara, Gaji PPPK Sudah Dianggarkan Tapi Tak Kunjung “Mendarat”
Kisah pilu ini membuktikan bahwa keterlambatan gaji bukan hanya soal angka di atas kertas, melainkan soal hak hidup yang dirampas. Almarhum telah pergi, meninggalkan nisan yang menjadi pengingat bagi penguasa: Bahwa di setiap lembar upah yang kalian tunda, ada nyawa yang sedang dipertaruhkan. (map)

